Oleh: pramonojgj | Februari 13, 2011

Dua Power Supply Dalam Satu Komputer

Kita para pengguna komputer, khususnya yang memiliki spesifikasi komputer yang cukup tinggi sering mengalami kebingungan dalam memilih Power Supply yang seperti apa yang cukup kuat untuk menjalankan semua peripheral yang ada di dalam komputer tersebut. Hampir semua teknisi komputer dan para penjual komputer akan selalu menyarankan dan meyakinkan kita bahwa Power Supply Unit (PSU) dengan “true power” adalah yang paling OK dan TOP MARKOTOP,..hehehehehe.

Kalo lagi ada dana nya,…sih gak papa, kita bisa langsung beli PSU dengan watt yang cukup besar dengan harapan mampu untuk menjalankan komputer tersebut.

Bagaimana dengan yang memiliki dana terbatas ?

Ada baiknya kita data terlebih dahulu peripheral apa saja yang terpasang pada komputer kita, lalu kelompokan menjadi dua bagian:
1. Bagian Primer (Mother board dan card perpasang)
2. Bagian Sekunder (Kipas, CD-ROM, Harddisk, dll)

Khusus untuk peripheral komputer yang didalamnya memiliki motor pemutar, biasanya agak lumayan memakan arus listrik (seperti: kipas, harddisk, cd-rom, dll) karena pada saat memutar terjadi gaya gesek pada motor pemutar dengan komponen mekanik lainnya

Kesimpulannya adalah kita dapat menjalankan bagian sekunder komputer tersebut dengan PSU sendiri. Sehingga SUPPLY arus yang masuk ke bagian primer tidak terganggu.

Kalau ada 2 PSU,..berarti ada yang PSU Primer dan PSU Sekunder. Untuk meminimalkan dana pengeluaran, maka PSU Sekunder dapat menggunakan PSU bekas “Yang Masih Baik”

Sistem kerja antara kedua PSU tersebut adalah:
” Ketika kita menghidupkan PSU Primer maka secara langsung PSU sekunder juga hidup”
Yang perlu kita ketahui di setiap power supply komputer adalah:
1. Memiliki bentuk soket yang standart
2. Warna kabel yang standart dan melambangkan tegangan tertentu (Merah = 5 Volt, Kuning = 12 volt, Hitam = Ground, dll)
3. Memiliki POWER GOOD (Kabel warna hijau pada soket 20/24 pin)

“Kalau PSU sudah terhubung dengan kabel AC, lalu kita sambungkan kabel warna hijau dan hitam, maka PSU akan menyala.”

Agar PSU primer dapat menghidupkan PSU sekunder, maka lihat gambar di bawah ini

Terlihat pada gambar ketika PSU Primer hidup maka secara otomatis menghidupkan relay yang langsung menghubungkan kabel hijau (Power Good) dan kabel hitam (Ground), maka PSU Sekunder seketika itu juga akan hidup dan mensuplai tegangan dan arus ke kipas, Harddisk, CD-Rom, dll

Sehingga kebutuhan konsumsi daya dari sistem komputer yang kita milliki dapat terpenuhi dengan baik.

Sistem Master-Slave PSU tersebut telah dipakai pada komputer saya sendiri, dan sampai saat ini baik-baik saja

Selamat Mencoba,…!!!

Oleh: pramonojgj | Februari 1, 2011

PRE-AMP MIC Sederhana untuk komunikasi HF

Banyak yang mengalami masalah distorsi ketika berusaha membuat pre-amp mic untuk pesawat radio HF, hal ini bisa saja terjadi bila kita tidak sangat memperhatikan pemasangan filter untuk memblok RF liar agar tidak masuk ke rangkaian pre-amp. Pada rangkaian ini hanya membutuhkan beberapa kapasitor keramik (1 nF) yang terhubung ke ground. Tahap filtrasi dimulai dari bagian input hingga bagian output. Dengan nilai besar kapasitor filter 1 nf, maka tidak akan mengangu kualitas audio yang diinginkan. berkaitan dengan kualitas audio, maka pada bagian kapasitor 1 uf (didepan) dan 4,7 uf (dibelakang) dapat diganti sesuai keinginan untuk audio yang diinginkan.

Rangkaian ini telah saya buat dan dipergunakan untuk komunikasi di HF band (80 meter dan 26 meter[out band]), hasilnya cukup memuaskan. Namun yang harus ingat adalah usahakan kabel penghubung antara rangkaian dan pesawat radio sedekat mungkin, atau kalaupun agak panjang gunakan kabel dengan serabut GROUND yang banyak dan “di kalungi” dengan FERRITE BEAD.

Rangkaian ini juga saya coba simulasikan dengan software LIVEWIRE, dan hasilnya sebagai berikut:

dari simulasi dapat dilihat bahwa penguatan dari rangkaian ini tidak begitu besar, sehingga kemugkinan distorsi adalah kecil. Untuk lebih jelasnya akan di simulasikan kembali rangkaian diatas tapi dengan nilai amplitudo sinyal yang berbeda (6,7,8 dan 15 Volt).

Untuk transistor dapat di gunakan “low noise NPN transistor”. Sebagai contoh 2sc2458 (mic dinamik) dan BC550 (mic kondenser).

SCREEN SHOOT HASIL SIMULASI:

Oleh: pramonojgj | Februari 1, 2011

“Another” SQUARE LOOP ANTENNA FOR 40 Meter

Sudah lama saya menginginkan desain lain dari antenna square loop pada 40 meter band. Setelah membaca beberapa artikel mengenai loop antenna dan hampir semuanya menyatakan bahwa impedansi pada antena loop “hampir” bisa dipastikan = 300 ohm.

Mengingat pekarangan saya yang kurang memungkinkan, maka saya berusaha untuk sedikit memodifikasi bentuk antena SQUARE LOOP tersebut menjadi ke bentuk yang “bukan” square. Sambil membuktikan mengenai impedansi yang “300 ohm” tadi.

Mula-mula saya memisalkan frekuensi kerja terlebih dahulu, dimana saya pilih 7.070 Mhz. Lalu saya hitung panjang gelombang frekluensi tersebut = (300/7.070) meter = 42,4 meter, dibulatkan = 42 meter
Lalu saya desain dengan panjang 17 meter dan lebar 4 meter
(Karena keinginan saya sisi 4 meter dapat di kaitkan dengan pipa paralon dan dapat digantung di atas tower)

Hasil pengujian menggunakan software MMANA-GAL :
1. Impedansi mendekati 300 Ohm
2. Penguatan antena 2.2 dBi (terhadap antena isotropis)
3. Sudut elevasi 71 derajat (tidak menarik buat DX-ing)

Berdasarkan hasil simulasi dari software MMANA-GAL, sepertinya bentuk “SQUARE LOOP” yang saya modifikasi menjadi bentuk lain tersebut cukup memenuhi syarat empiris sehingga layak diteruskan ke tahap implementasi.

Mungkin ada baiknya,..mari kita sama-sama mencobanya !,…

SCREEN SHOOT HASIL PENGUJIAN:

Oleh: pramonojgj | Februari 1, 2011

Antena LOOP (80M) untuk lahan sempit

Bagi yang memiliki lahan sempit dan menginginkan antenna 80 meter band dengan model LOOP,…sepertinya dapat menerapkan rancangan ZZ wave, yang di desain oleh VE6VIS (http://www.ideascreateideas.com/zzwavenet.html).

Setelah sedikit saya pahami dan ubah sedikit desainya, lalu saya uji cobakan pada software MMANA-GAL, maka dapat diambil kesimpulan bahwa antenna tersebut layak untuk dibuat.

Adapun ujicoba yang saya lakukan dengan software tersebut adalah:
1. Feedpoint antenna = 8 meter
2. Jarak antara (feedpoint dan bagian ujung atas) = 4 meter

Hasilnya adalah =
1. Pada feedpoint memiliki impedansi = 206.1 ohm
2. Bisa menggunakan balun 1 : 4
3. Penguatan = 2.0 dBi (terhadap antena isotropis)

Untuk pola radiasi pancarnya, ada baiknya anda coba sendiri dengan software MMANA-GAL dengan mengikuti data yang telah saya tampilkan pada screen shoot (khusus untuk nilai X,Y dan Z)

Selamat Mencoba,..!

SCREEN SHOOT HASIL PENGUJIAN:

Oleh: pramonojgj | Oktober 13, 2009

Membuat ECG Sederhana

Sistem ini menggunakan sensor yang di aplikasikan kepada manusia untuk melakukan pengukuran Electro cardiography. Pada awal penelitian ini hanya bertujuan menggantikan alat elektrokardiografi konvensional yang biasanya berada di rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang lain.

Sistem EKG

dan dapat digunakan dengan biaya yang cukup mahal. Cara kerja sensor cukup sederhana hanya dengan membangun sebuah rangkaian amplifier differensial, yang masukannya ada 3 buah (+, – dan Ground). Ketiga masukan ini nantinya akan tersambung dengan elektroda yang ditempelkan di tubuh. Elektroda ini akan merekam aktivitas kelistrikan jantung yang biasanya dalam orde microvolt. Oleh karenanya kemudian di kuatkan oleh penguat operasional yang bekerja secara differensial, penguat operasional ini dapat memperkuat signal-signal yang ber-amplituda rendah dan memiliki input yang sama. Setelah melewati penguatan differensial, lalu sinyal yang berasal dari elektroda akan di kuatkan oleh sebuah penguat operasional untuk kemudian di umpankan masuk ke dalam soundcard yang bertindak sebagai pengubah analog ke digital. Untuk kemudian pulsa digital yang dihasilkan oleh soundcard diproses oleh aplikasi. Hasilnya adalah data time series yang menggambarkan kondisi kerja jantung manusia.

Rangkaian EKG

Blok Diagram Sistem

Hasil Tampilan Pada Software

Tampilan Software

Selamat Mencoba,…!!!

Banyak para homebrewer amatir di indonesia yang membuat antenna untuk keperluan mereka. Dan yang dilakukan biasanya hanyalah meniru dari antenna yang sudah jadi. Yang dijadikan ukuran adalah antenna ”build up”. Tingkat keberhasilan membuat antenna dengan sistem seperti ini adalah sangat tergantung dari kecermatan si pembuat. Hanya saja ketika antenna di uji dan memberikan hasil yang memuaskan, biasanya akan di klaim oleh si pembuat bahwa antenna tersebut memiliki tingkat penguatan (gain) yang sama dengan aslinya. Mungkin kita para homebrewer harus berfikir lebih kritis mensikapi hal tersebut.

MMANA adalah sebuah software yang memungkinkan kita untuk mengetahui karakteristik antenna yang akan atau telah kita buat. Dan sangat dimungkinkan juga untuk meningkatkan perfomance antenna tersebut lewat software ini. Software MMANA-GAL -Antenna Analyzer pertama kali diciptakan oleh Macoto Mori – JE3HHT, amatir radio asal Jepang (10 Januari 1999). Edisi bahasa Inggris oleh Alex Schewelew (DL1PBD) dan Igor Gontcharenko (DL2KQ) keduanya amatir radio dari German.

TAMPILAN MMANA-GAL

Pada bagian pertama tulisan saya ini, mungkin ada baiknya saya berikan sebuah contoh kasus dalam desain sebuah antenna. Agar para pembaca akan lebih tertarik untuk menggunakannya.

Kasus 1

Pada kasus ini penulis akan mencoba menggambarkan seperti apa pancaran sebuah antenna J-Pole, dan kebetulan rancangan tersebut sudah ada pada software MMANA-GAL tersebut.

Contoh Rancangan Antenna J-Pole

Setelah dibuka maka tampilan data geometri antenna J-Pole adalah sebagai berikut:

Data Geometri Antenna J-Pole

Bila ingin melihat tampilan fisik antenna J-Pole yang kita rancang tinggal memilih tombol View.

tampilan fisik antenna J-Pole

Dapat dilihat Z1 adalah elemen pendek dari J-Pole yang panjangnya 59 cm, kemudian Z2 adalah elemen panjang dari J-Pole yang panjangnya 158 Cm sedang R adalah jarak antara Z1dan Z2 dari J-Pole selebar 3 Cm. Dapat di crosscheck menggunakan software J-Pole Calculator pada situs http://www.va3sf.com/jpole.htm.

J-POLE

Didapat Nilai:

Panjang bagian A = 148 Cm

Panjang bagian B = 49 Cm

Jarak D = 4,6 Cm

Jarak C = 4,9 Cm

Bila kita bandingkan nilai-nilai rancangan pada software MMANA-GAL dan J-POLE calculator ada sedikit perbedaan. Hal ini dimungkinkan karena adanya toleransi terhadap angka penting dalam pengukuran dan pendekatan rumus J-POLE yang berbeda. Namun untuk saat ini pembahasan mengenai perbedaan ini kita abaikan terlebih dahulu. Coba kita lanjutkan untuk bereksplorasi pada software MMANA-GAL.

Untuk memulai simulasi software MMANA-GAL ini langsung kita klik saja pilihan Calculate kemudian klik pilihan start, namun terlebih dahulu pilih sistem grounding dengan pilihan free space dan dengan pilihan material Al pipe (Pipa Alumunium)

Simulasi

Hasil setelah pilihan Start di klik

Simulasi

Dapat dilihat rancangan antenna memiliki impedansi sebesar 50,46 Ohm dan SWR 1:1,04 serta Gain sebesar 2,34 dBi (Penguatan terhadap antenna Isotropis). Kemudian kita klik pilihan Far Field Plot untuk melihat pola radiasi yang dihasilkan

Simulasi

Untuk melihat gambar 3 dimensi dari far Field antenna J-POLE dapat klik pada pilihan 3D FF.

Simulasi 3D

Oleh: pramonojgj | Oktober 26, 2008

AutoConect Pada RF Gateway eQSO

Admin atau Sysop sebuah gateway mengalami permasalahan ketika mereka harus mengkondisikan Gateway mereka selalu siap digunakan. Kendala muncul adalah ketika “Listrik Mati”, otomatis komputer Gateway juga ikutan mati. Dan ketika “Listrik Menyala” komputer baru dapat dihidupkan. Ketika yang menghidupkan komputer tersebut bukan admin atau Sysop itu sendiri biasanya permasalahan juga akan timbul karena bingung aplikasi eQSO mana yang harus dijalankan.

Hari ini masalah tersebut sepertinya sudah bisa diatasi, caranya adalah sebagai berikut

1. Cari Icon eQSO pada desktop anda

2. Klik kanan pada icon tersebut kemudian pilih properties

3. Perhatikan isian pada bagian “Target”

4. Tambahkan kalimat “autoconect”

5. Seperti contoh disamping ==> C:\RESHACKER\eQSO-SWL_Final.exe autoconect

6. Pilih “OK” atau “Apply” agar perubahan ini dapat disimpan

7. Masukkan Shortcut Icon tadi pada Menu Startup

8. Coba lakukan Booting ulang

9. Sistem Autoconect pada sistem gateway anda sudah bisa digunakan

Cara diatas mungkin cukup membantu ketika admin atau Sysop tidak sedang berada ditempat, Namun memang ada kelemahannya, yaitu: ketika koneksi internet dan sistem komputer anda mengharuskan memasukkan “Login” dan “Password”

Selamat Mencoba

SUMBER: Mas Iwan, Cilacap

Oleh: pramonojgj | September 5, 2008

L-Meter menggunakan Multimeter Digital

Para homebrewer terkadang menghadapi kendala dalam mengukur nilai induktansi dari sebuah induktor yang akan dipasang pada sebuah perangkat yang sedang di rakit. Hal ini biasanya dikarenakan memang harga dari L-meter pabrikan sendiri yang agak lumayan mahal.

Pada tulisan perdana saya kali ini, saya ingin memberikan sedikit informasi bagaimana memanfaatkan sebuah Multimeter Digital untuk dijadikan sebuah L-meter yang dapat bermanfaat terutama dalam kegiatan homebrewer.

L-meter yang dibangun ini saya dapat dari sebuah situs di internet: http://cappels.org/dproj/Lmeter/lmet.htm, adapun jangkah pengukuran L-meter ini adalah dari 500 nH s/d 50 uH.

Rangkaian L- Meter

Ada baiknya kita simak cara kerja L-meter ini:

Prinsip kerja rangkaian ini adalah seperti jika kita memberikan sebuah pulsa dengan lebar tertentu ke sebuah induktor, untuk kemudian diamati pulsa keluarannya baik frekuensi dan amplitudonya dari pulsa tersebut. Setelah itu pulsa tadi akan di lewatkan pada sebuah Low-Pass filter dan yang muncul pada output dari Low-Pass tersebut hanyalah rata-rata sinyal yang berupa tegangan. Tegangan ini adalah tegangan DC yang merupakan peralihan bentuk dari pulsa yang telah dilewatkan induktor. Artinya bila terjadi perubahan ukuran induktor (Nilai besarnya) maka tegangan rata-rata yang muncul akan berubah juga.

Bila kita dalami lebih lanjut. Ada beberapa pernyataan yang bersifat matematis:

Lebar Pulsa = Nilai Induktansi X sebuah konstanta (Bil. Imajiner)
Output Tegangan = Lebar Pulsa X Amplitudo Pulsa X Frekuensi

Artinya, kalau disubsitusikan kedua pernyataan matematis diatas, adalah:

Output Tegangan = Nilai Induktansi X Konstanta X Lebar Pulsa X Amplitudo Pulsa X Frek

Bila dianggap Konstanta, Lebar Pulsa, Amplitudo Pulsa dan Frekuensi dari rangkaian adalah tetap, maka

OUTPUT TEGANGAN = NILAI INDUKTANSI

Tegangan DC dan Amplitudo Pulsa memiliki satuan volts, lebar pulsa memiliki satuan second dan Frequency memiliki satuan Hz (1/seconds).

Pulsa dibangkitkan oleh schmitt trigger oscillator yang menggunakan umpanbalik pada pasangan tahanan dan kapasitor (2k pot dan 3.9k resistor serta 1000 pf kapasitor). Lebar pulsa yang dihasilkan setara dengan lebar pulsa yang dihasilkan oleh sebuah . Lebar pulsa yang dihasilkan dapat di serap oleh sebuah induktans dengan cara melewatkannya melalui resistor untuk kemudian masuk ke induktans tersebut. Dan menghubungkannya lebih lanjut kepada pembangkit gelombang gigi gergaji yang tersambung dengan masukan dari schmitt trigger oscillator. Ssistem ini akan menghasilkan pulsa kotak yang cukup baik. Lebar pulsa kotak yang dihasilkan adalah sebanding dengan lebar pulsa yang dihasilkan oleh induktans dan berbanding terbalik dengan lebar pulsa yang dihasilkan oleh tahanan. Untuk mendapatkan lebar pulsa tertentu sangat tergantung pada siklus naik dan siklus turun dari schmitt trigger oscillator, dan hal ini membutuhkan tingkat linearitas yang baik.

Gerbang inverter terakhir (Yang terhubung dengan tahanan 39K) akan membuat pulsa positif dengan sebuah polaritas mengingat tahanan 39K tersebut tehubung juga dengan sebuah kapasitor elektrolit yang memiliki polaritas positif dan negatif. Sehingga bila ada kenaikan nilai induktans yang terpasang maka akan ada pula kenaikan tegangan pada ujung dari kaki-kaki kapasitor.

Akhirnya Persamaan: OUTPUT TEGANGAN = NILAI INDUKTANSI, terbukti,..!!!!

CARA KALIBRASI

  1. Hubungkan multimeter dengan L-meter, Ambilah sebuah inductor untuk kalibrasi. Misal menggunakan linduktor dengan nilai 1 microhenry. Kemudian aturlah variabel resistor 2K sehingga menunjukkan nilai 100 millivolt pada multimeter digital. Ada baiknya sesuaikan saklar pemilih range tegangan baik. Sehinngga 1 mikrohenry = 1 millivolt.
  2. Mungkin akan terjadi permasalahan pada saat kalibrasi. Hal ini disebabkan biasanya karena perubahan waktu pulsa naik ke pulsa turun atau sebaliknya dari 7414 sering tidak sama. Dan untuk mengatasi hal ini dapat dengan mengubah nilai tahanan dan nilai kapasitor (tahanan 3.9K dan kapasitor 1000 pf) pada bagiam schmitt trigger oscilator.
  3. Ketika Lx (Induktor) di hubungkan singkat, maka output tegangan dari L-meter akan bernilai 0 Volt. Jika tidak maka biasanya terlalu banyak induktans penganggu yang menganggu Lx atau bisa juga sistem grounding/pentahanan dari L-meter yang kurang baik. Atau mungkin juga 7414 anda rusak,..!!
  4. Ketika Lx tidak terhubung tegangan akan menunjukkan sekitar 2,5 Volt (harga 50% dari tegangan power supply). Jika tidak nilai ambang pulsa naik atau turun yang dihasilkan oleh 7414 tidak simetris. Jangan berkecil hati, anda dapat mengatur frekuensi Schmitt trigger oscillator seperti langkah kedua.
  5. Bila pada langkah 4 ini tegangan dibawah 2,5 volt, segera cek apakah ada perkabelan yang salah, permasalah pada system regulator anda atau jika menggunakan baterai apakah baterai anda sudah low power, mungkin 7414 anda rusak, dan yang terakhir mungkin anda menggunakan multimeter dengan tahanan dalam yang rendah. Ada baiknya menggunakan multimeter digital dengan tahanan dalam sekitar 10 Meg Ohm.
  6. Schmitt Trigger Oscilator pada rancangan L-meter ini bekerja pada frekuensi 173 Khz, Bila diukur ternyata frekuensi yang dihasilkan terlalu besar maka dapat mengganti komponen oscilatornya (Seperti langkah kedua) atau mengganti jenis ic 7414 dengan pembuat yang berbeda.

Grafik Hub. Tegangan(mV) VS Nilai Induktans(uH)

L-meter sedang mengukur Induktor dengan nilai 900 nH

Sumber: http://cappels.org/dproj/Lmeter/lmet.htm

Oleh: pramonojgj | Agustus 22, 2008

Speech Processing Untuk HF dan VHF

Dalam beberapa minggu ini saya kebetulan banyak menghabiskan hari-hari saya di rumah. Karena masa perkuliahan belum dimulai. Kemudian saya memutuskan untuk membuat sebuah eksperimen mengenai “speech processor”. Banyak artikel yang saya baca mengenai speech processor, dan kebanyakan menjelaskan bahwa sistem kerja speech processor ini tidak jauh beda dengan compressor. Namun kalau menurut saya ada beberapa perbedaan yang mendasar.

Pada speech processor “raises the average power relative to peak power”,……. Banyak penafsiran akan hal ini. Namun lebih jelasnya mari kita lihat pada chart dibawah ini:

Terkadang disaat kita merasakan bahwa audio kita saat berkomunikasi terkesan kurang lantang, maka pengaturan mic gain dan volume pada sistem “audio processing” tanpa “speech processing” yang akan kita putar. Hal ini hanya akan menambah peak power nya saja. artinya average power dari audio kita tetap saja. Sehingga tetap saja audio kita tidak akan pernah lantang. Speech processor memperbaiki hal tersebut, dengan speech processor ini dapat menaikkan average power. Dengan demikian diharapkan audio kita bisa lebih menonjol dan lantang.

Sudah lama saya tertarik dengan rangkaian dibawah ini, dan kebetulan rangkaian ini termasuk speech processing:

Eksperimen saya lakukan dengan bertahap, pertama saya membuat sampai dengan T1,..pada tahap ini suara dari mic condenser sudah terdengar dan bernuansa agak treble. Lalu saya teruskan lagi sampai pada T2 dan seterusnya. P1 berfungsi sebagai mic gain,…semakin besar kita membuka potensiometer atau trimpotnya maka semakin besar amplitudo dan noisenya. Ada baiknya di atur minimal saja sehingga noise tidak terlalu besar. P2,…pada fungsi potensiometer atau trimpot ini awalnya agak membingungkan saya, setelah saya amati ternyata P2 ini berfungsi sebagai tone audio (Perhatikan konstruksi P2 dan kapasitor 100 uF yang membentuk Low Pass Filter). Dan ternyata benar,..setelah saya atur suara yang dihasilkan memang menimbulkan nada bass. Namun sebelum melakukan semua test diatas saya mencoba merenungkan apa fungsi coil dengan nilai 3 – 3.5 Henry. Setelah saya perhatikan dengan seksama sepertinya juga berfungsi untuk Filter. Karena susah mencarinya, akhirnya saya ganti dengan Resistor 1 Kilo ohm. Selain itu saya juga melakukan perubahan pada Kapasitor Output yang terhubung dengan basis T4 (yg bernilai 100 nF). Dan secara kesuluruhan setelah saya amati, maka hasilnya sangat memuaskan. Audio yang dihasilkan memang menaikkan average powernya dengan noise (Peak power) yang rendah.

Mohon maaf,…belum bisa menyertakan hasil jadi dari rangkaian tersebut,…..

Saya usahakan segera akan saya tambahkan pada tulisan ini gambar tersebut……..

Selamat Mencoba,…..!!!!

Oleh: pramonojgj | Agustus 22, 2008

Wrong Homebrewing and Right Homebrewing

Many Justification for homebrewing,…

I found a good notes about homebrewing from JF1OZL sites

Kazuhiro Sunamura said:

This is wrong way of homebrew :
1.Reading the article on the book.
2.Buying the parts on the book.
3.Making the print board.
4.Soldering.
5.Checking the movement.
6.Not completed!!

And if we are stay at a wrong way…. we always have a condition and do something like below:

1.Even if you could get the same type of transistor as the article on the book, you must arrange the bias current in many cases.
2.The parts supplier says “equivalent parts”. But that means that “you can use it , if you make some arrangement on the circuit.”.
3.If one part of the machine ( made by 100 of parts) were connected fail, the gear can not move.
4. As one of an author of the magazine , I must say that the circuit is printed wrong in sometimes. 1k ohm is printed 1 ohm in sometimes.
5.The pitfalls described above will wait for you. You will fall in each of them with the probability of 50%. You will reach the goal with the probability of 0.5*0.5*0.5*0.5=0.06 . Yes only 6%.

This is the right way of homebrew :
1.Reading the article on the book.
2.Understanding the block diagram.If the article shows only circuit, you must wright the block diagram by     yourself.
3.Understand the movement of each blocks one by one. Foe example,if the main positive part of the block  was IC, you must check as follows.
*Check the difference of the circuit between the article and the application circuit on the databook of the maker!
*Check the inner circuit on the IC! You must understand the movement of that IC as the transistor level.
*Check the impedance of the article is good for that IC!
*Check the signal level of the article is good for that IC!
*Check the power level (Vcc) of the article is good for that IC!
*Check the frequency of the article is good for that IC!
*Check the IC of the article is acceptable for you , or not! If the main part was transistor , you must check the same way.
4.Write the circuit with your stock. Foe example, LM386 must be used instead of LM380 on the article. Then you must check the Vcc, you must check that the 8 ohm speaker can be used or not.
5.Make the block one by one. And you must check the movement of the block one by one. The radio must be made from the power amplifier. The ssb transmitter must be made from the mic amplifier. Nobody will make transmitter from the final AMP. Sometimes you must make the pretest about the relation for the frequency of the machine. Therefore the pretest of the oscillator and filter must be made in some cases.
6.Check the machine on the board.
7.Make case!
8.Here you came only half the way.
9.You must make some QSO with your local station. Receive the report!
10.I will describe about check point of SSB transmitter.
*You say ” sha-syu-syo-“! You can arrange the relation between the filter and carrier oscillator.
*If your voice vibrates on the top of each words (for example “action” can be heard like “Gaction”.), you must reduce the voltage of the signal of microphone amplifier.
*You must check the linearity of the final amplifier.
*You must check the hum.
*you must check about the self oscillation of the microphone wire and the antenna. Sometimes this  phenomenon happens on the timing of peak power of the ssb signal.
*You must check the stability with the another power supply.
*You must test the transmitter with no antenna on the connector. On the top of the hill sometimrs the wire of antenna will be broken.
11.Apply to the association.
12.Somebody makes the case on the top of the project.
13.Do not afraid to fail! My project completes only 50% of these days

Up to you,…for make a decision about you are running on wrong way or right way of homebrewing….!!

Thanks For JF1OZL (Kazuhiro Sunamura) !

You are a trully HomeBrewer,……….

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.